EXCELSIOR

Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Banyak yang bilang kalau hidup itu pilihan. Pada dasarnya memang benar, setiap hal yang dilakukan manusia, sadar atau tidak, adalah sebuah proses pengambilan keputusan. Berjalan dengan kaki kanan atau kiri terlebih dahulu, mendengar alarm lalu bangun atau melanjutkan tidur, menentukan posisi untuk duduk di suatu barisan kursi, semuanya adalah pilihan. Namun terkadang banyak orang yang menganggap itu hal biasa, karena memang hampir setiap hari kita menentukan pilihan untuk hal-hal tersebut.

Hal yang berbeda terjadi jika seseorang dihadapkan pada pilihan yang tidak terjadi setiap hari, bahkan mungkin hanya terjadi satu kali seumur hidup. Hal tersebut terjadi karena keputusan yang diambil saat itu akan menentukan kejadian atau akan mempengaruhi keputusan-keputusan di masa yang akan datang. Contoh mudah ketika seseorang akan memutuskan memilih sebuah rumah. Banyak pertimbangan yang muncul karena memilih suatu rumah akan membuat seseorang memilih menggunakan kendaraan yang akan digunakan untuk pergi bekerja atau beraktivitas. Memilih dekorasi yang akan diterapkan pada rumah tersebut. Atau yang paling sederhana memutuskan berapa lama akan tinggal di rumah tersebut.

Ya, tidak mudah menentukan pilihan yang akan berpengaruh pada pilihan-pilihan lainnya di masa yang akan datang. Terlebih jika harus menentukan pilihan yang tidak hanya berpengaruh pada diri sendiri, tetapi juga pada orang lain. Beban tambahan akan muncul karena hal yang kita pilih bisa membuat orang-orang di sekitar kita bangga, atau justru membuat kita menyesal. Bahkan kadang ada hal-hal yang harus dikorbankan sebagai pijakan kita dalam menentukan pilihan. Tentu saja butuh pengorbanan yang tidak kecil jika kita dihadapkan pada pilihan yang dapat memberikan hasil yang besar.

Tapi jika kita berpikir kembali, mengingat kembali tujuan kita hidup di dunia, kita tidak mempunyai pilihan tujuan hidup lain selain beribadah kepada-Nya. Jadi sebisa mungkin, dasarkan pilihan-pilihan kita dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya. Karena sebaik apapun pilihan kita, hanya Dia yang berhak menentukan seberapa jodoh kita dengan pilihan-pilihan kita.
Jalani, nikmati, syukuri.
Read More …

Banyak hal yang bisa dibahas ketika seseorang menyebutkan tentang harapan. Secara umum, harapan adalah suatu kejadian yang diinginkan untuk terjadi di masa yang akan datang. Harapan bisa menjadi kekuatan tambahan bagi seseorang untuk melakukan sesuatu. Pernah ada suatu cerita yang menjelaskan sebuah penelitian yang melibatkan dua ekor tikus. Salah satu tikus dimasukkan dalam kotak yang tertutup rapat tanpa sedikitpun cahaya matahari, seekor tikus lainnya pun dimasukkan dalam kotak tertutup rapat namun diberikan sedikit lubang agar cahaya bisa masuk, selebihnya tidak ada perlakuan yang berbeda antar kedua tikus tersebut. Setelah beberapa waktu, tikus yang terkurung dalam kotak yang terdapat sedikit cahaya mampu bertahan hidup lebih lama dibandingkan tikus yang terkurung tanpa cahaya. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya cahaya membuat harapan hidup tikus tersebut menjadi lebih besar.

Harapan yang baik adalah harapan yang dapat dikendalikan. Akan menjadi hal yang sia-sia ketika seseorang telah membuat harapan tetapi tidak disertai dengan kemampuan atau usaha yang sesuai. Seperti banyak orang mengatakan bahwa kita harus menjadi sosok yang optimistis asalkan tetap realistis. Kita boleh yakin bahwa kita bisa menjadi orang yang pintar, tetapi kita harus tetap sadar bahwa salah satu hal yang bisa membuat pintar adalah belajar, karena kepintaran tidak datang begitu saja.

Seseorang boleh berharap apa saja, tidak ada aturan yang melarang seseorang untuk berharap sesuatu. Namun terkadang seseorang membuat harapan yang justru membuat dirinya 'jatuh'. Salah satunya adalah berharap kepada manusia. Ketika kita berharap pada manusia, secara tidak sadar kita seperti melakukan sebuah perjudian yang mempunyai dua kemungkinan, yaitu senang atau sedih. Suatu saat, harapan tersebut bisa memberikan suatu kebahagiaan, tapi di saat lainnya bisa saja harapan tersebut membuat seseorang masuk dan jatuh ke suatu dunia yang bernama kesedihan.

Ketika peluang memperoleh rasa senang datang, seseorang tidak akan terlalu merasakan efek dari berharap kepada manusia. Tetapi sebaliknya, ketika suatu harapan kepada manusia menghasilkan kesedihan, efeknya akan sangat terasa. Bahkan tidak hanya terjadi pada saat itu, bisa terus terjadi hingga ke waktu-waktu selanjutnya sampai orang tersebut sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan karena berharap pada manusia. Seperti orang yang menaiki roller coaster, rasa senang datang ketika roller coaster beranjak naik dan kita bisa menikmati keadaan sekitar dari lokasi yang semakin tinggi, namun situasi berubah menjadi tegang ketika roller coaster memasuki lintasan menurun, berbelok, bahkan memutar, sampai ketegangan itu hilang ketika roller coaster telah berhenti.

Lalu pada siapa kita berharap?

Sebelum saya menjawab, pasti sudah ada suatu jawaban yang terbayang dalam pikiran siapapun yang membaca.

Ya, berharap pada Allah adalah suatu jawaban yang paling tepat.

Tetapi jangan berharap akan mendapatkan sesuatu yang besar jika kita tidak pernah melakukan usaha yang besar. Seseorang yang memancing di selokan yang kecil tidak akan pernah mendapatkan bahkan melihat seekor paus yang besar. Butuh keberanian besar, kapal yang besar, serta kemampuan yang baik untuk bisa mendapatkan ikan yang besar di lautan.

Jadi, kita boleh berharap setelah kita berani bertindak. Tanpa tindakan, harapan hanya akan menjadi mimpi yang hilang tersapu mentari pagi.
Read More …

1 Oktober 2013 akhirnya datang. Suatu waktu yang diawali oleh sebuah tes di minggu pertama bulan September. Ya, tes untuk menempati suatu posisi dalam sebuah pekerjaan. Setelah melewati beberapa ujian akhirnya sampai pada penentuan tanggal 1 Oktober 2013 sebagai hari penandatanganan kontrak kerja sekaligus hari pertama untuk bekerja.

Butuh beberapa waktu dan pertimbangan sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan ini. Kesempatan yang masih terbuka untuk bekerja di tempat lain menjadi salah satu pertimbanngan yang cukup berat untuk ditinggalkan. Alasan lainnya adalah adanya masalah yang cukup serius yang sedang dihadapi perusahaan yang memang terjadi akibat beberapa oknum tertentu. Masalah yang tidak hanya mencakup perusahaan, tetapi juga masyarakat dan juga negara.

Tapi keputusan harus tetap diambil. Sampai kapanpun, setiap keputusan tidak akan pernah lepas dari adanya suatu risiko. Saat ini hanya bisa yakin pada keputusan-Nya yang telah memberikan kesempatan ini, jalani dengan sebaik mungkin, jujur, disiplin, baik, dan benar juga menjadi nasihat dari seseorang yang terus berusaha meyakinkan agar suatu saat nanti tidak terjebak dengan segala keburukan yang mungkin akan terjadi di dunia kerja.


1 Oktober 2013. Tetap berharap pada-Nya agar hari ini menjadi sebuah awal yang baik.
Read More …

Alhamdulillah, akhirnya sidang skripsi selesai, ujian terakhir di tingkat pendidikan S1 :)
Seneng? Pasti iya. Tapi setelah ini, ujian sebenernya baru dimulai.
Untuk saat ini, engga ada pilihan lain selain yakin kalau besok pasti lebih baik dan terus selalu jadi lebih baik.


Terima kasih juga untuk temen temen yang udah nungguin sampe sore :)







Read More …

Setelah melewati beberapa kali pergantian tanggal, akhirnya sampai juga di tahap ini, "Seminar Hasil Penelitian". Proses ini bisa jadi salah satu titik aman untuk sebagian mahasiswa tingkat akhir, karena jika selesai melewati proses ini tujuan akhir setiap mahasiswa strata 1 (S1) sudah semakin jelas terlihat, yaitu mendapat gelar sarjana.
Pelaksanaan seminar ini terkesan agak dipaksa karena ada 3 orang penyaji dan seminar dimulai jam 15.00 dengan waktu masing-masing penyaji selama 1 jam. Kecemasan di awal seminar karena dikhawatirkan akan terjadi kekurangan peserta akhirnya hilang setelah sekitar 50 orang datang sebelum seminar dimulai, bahkan ada yang harus mengambil kursi dari ruangan lain karena jumlah peserta melebihi kuota kursi yang tersedia.
Setelah menunggu karena menjadi penyaji terakhir, dibahas oleh pembahas, menanggapi pertanyaan dari forum, serta mendengar masukan dari dosen pembimbing, akhirnya rangkaian seminar hasil penelitian SELESAI :)
Mayank, Tedi, Melpi
Terima kasih untuk Bu Tintin sebagai dosen pembimbing skripsi dan teman-teman 1 bimbingan.
Intan, Tedi, Bu Tintin, Melpi, Mayank
Terima kasih juga untuk semua teman-teman yang telah hadir memberikan doa dan dukungan.


Read More …

Gabung di organisasi itu engga harus selamanya rapat, bikin acara, atau bikin laporan kegiatan. Selesai kepengurusan organisasi juga engga berarti selesai kebersamaan di suatu divisi atau organisasi itu. Ya, itulah yang dilakuin B'Extion, empat bulan setelah kepengurusan berakhir, kita pergi bareng lagi, jalan bareng, nonton bareng, karaoke bareng, dan juga makan bareng. Nonton kali ini juga bisa dibilang spesial. Filmnya Iron Man 3, nonton di hari pertama penayangan di Indonesia, di jam paling awal juga. #bangga hahaha

Itu mungkin jadi salah satu hal yang bakalan susah dilakuin setelah kerja nanti. Itu yang kemarin dirasain waktu pulang setelah pergi bareng. Mungkin sesuai sama yang sering dibilang orang-orang, kita baru ngerasa punya sesuatu setelah kita kehilangan sesuatu itu. Tapi semoga yang ini engga, lain waktu, lain kesempatan, semoga bisa kumpul lagi sekalian jalan bareng
Read More …


-Bandung, 19 November 2011-

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.


Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.


Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.



Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.


Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.


Cerita ini diambil dari http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/11/19/bapak-tua-penjual-amplop-itu/
Engga ada maksud atau tujuan lain nulis ulang cerita ini selain untuk mengingatkan diri sendiri tentang arti sebuah semangat, perjuangan, dan keikhlasan.
Cerita di atas engga berakhir sampai disitu, masih ada lanjutan ceritanya dan cukup membuat hati 'bangun', tapi silakan dilihat langsung di sumber aslinya :)


Read More …




Gladikarya merupakan salah satu bagian yang terdapat dalam kurikulum pembelajaran Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Gladikarya merupakan suatu bentuk pendidikan dengan cara memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa Agribisnis untuk hidup di tengah masyarakat di luar kampus, dan secara langsung bersama-sama masyarakat mengidentifikasi, menganalisa, serta menangani masalah-masalah pembangunan agribisnis yang dihadapi.

Pada tahun ini, Gladikarya dilaksanakan di 22 desa yang terdapat dalam 6 kecamatan di 2 kabupaten yang terdapat di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur. Saya dan keempat teman saya yang lain ditempatkan di Desa Gekbrong Kecamatan Gekbrong Kabupaten Cianjur. Kami diberikan waktu selama 7 minggu yang dimulai sejak 25 Juni 2012 untuk mengidentifikasi masalah terkait agribisnis, menyusun program, melaksanakan program, hingga evaluasi program.

Selama satu minggu kami mencoba mengidentifikasi potensi dan permasalahan yang ada. Berdasarkan data pada tahun 2010, dari 1973 kepala keluarga (KK) yang ada, 81% diantaranya bermatapencaharian sebagai petani, namun sebanyak 63% hanya sebagai buruh tani. Dari total lahan di Desa Gekbrong seluas 134,3 hektar, 75 hektar digunakan sebagai ladang untuk menanam berbagai macam tanaman hortikultura. Berdasarkan pengamatan kami, potensi utama tanaman hortikultura di desa ini adalah tomat.



Untuk mengetahui permasalahan yang ada, kami turun langsung ke lapang, berdiskusi dengan para petani yang ada, serta konsultasi kepada penyuluh dan perangkat desa yang ada. Kami menyimpulkan masalah utama yang ada di desa ini adalah permasalahan pada kelembagaan atau kelompok tani yang ada disana. Kelompok tani sudah terbentuk, namun fungsi kelompok tani belum bisa dirasakan secara optimal oleh petani-petani di desa ini, dikarenakan pengurus yang kurang aktif dan kurangnya keinginan petani untuk bergabung ke dalam kelompok tani.




Berdasarkan identifikasi yang telah kami lakukan, kami menyusun tiga program yang diharapkan bisa sedikit membantu menyelesaikan permasalahan yang ada. Kami menyadari bahwa kami disini tidak memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan, sehingga inti utama dari program yang kami laksanakan adalah menempatkan kami sebagai fasilitator. Oleh karena itu, dalam ketiga program yang kami laksanakan, kami selalu mengundang Kepala Desa sebagai pengambil kebijakan tertinggi di desa ini.

Program pertama yang kami laksanakan adalah program Bincang-bincang Agribisnis. Program ini bertujuan untuk memberikan motivasi kepada petani agar mau berperan aktif dalam kelompok tani. Menghadirkan kepala desa, kepala Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Gekbrong, dan pendiri koperasi yang berada di sebelah desa Gekbrong. Konsep acara berupa dialog interaktif sehingga ada informasi yang diberikan petani terkait masalah yang mereka hadapi, dan ada solusi dari pihak desa maupun penyuluh pertanian.



Program kedua adalah Benah Kelompok Tani. Dari lima kelompok tani yang ada di desa ini, kami hanya fokus pada satu kelompok tani karena adanya keterbatasan waktu pelaksanaan program. Kami memilih Kelompok Tani Gede Harepan yang berada di Kampung Tabrik Desa Gekbrong karena adanya beberapa alasan yang salah satunya adalah adanya keinginan yang kuat dari salah satu petani disana yang mengharapkan kelompok tani ini bisa berjalan kembali. Hasil dari kegiatan ini adalah terbentuknya kepengurusan baru dan pemberian kelengkapan administrasi kelompok tani oleh pihak mahasiswa.




Program terakhir yang kami laksanakan adalah Fasilitator Pertemuan Kelompok Tani Gede Harepan dengan Pengurus Desa dan Penyuluh Pertanian. Hal ini dilakukan karena sebelumnya komunikasi antara kelompok tani dengan pengurus desa dan penyuluh pertanian tidak berjalan dengan baik. Dari program ini, pengurus desa dapat mengetahui kondisi yang dialami warganya, penyuluh pertanian dapat mengetahui permasalahan pertanian yang dihadapi petani, dan petani mengetahui salah satu jalur pemasaran yang diberikan oleh penyuluh pertanian.



Tujuh minggu yang saat awal pelaksanaan dibayangkan terasa lama, ternyata tidak begitu terasa dan kami pun harus bersiap pergi meninggalkan desa ini. Banyak pelajaran yang kami dapatkan dan tidak bisa diperoleh ketika kita hanya duduk di dalam ruang kelas. Arti sebuah perjuangan untuk hidup, dan semangat yang ditunjukkan petani disini cukup membuat kami sadar pentingnya bersyukur atas semua yang telah kami dapatkan.










Read More …

Sedikit kembali ke masa lalu. Karena ada beberapa alasan, akhirnya ngambil keputusan untuk gabung lagi di kepengurusan HIPMA 2011-2012 dan milih tetep lanjut di Bureau of External Relation (B'Extion). Dari kepengurusan tahun sebelumnya, ada dua orang yang lanjut disini yang salah satunya jadi ketua B'Extion, sebut saja Nora. Ada juga Titha, Eja, Mae, Ines, dan Sandro. Sebelumnya cukup banyak yang daftar untuk jadi anggota B'Extion, tapi akhirnya memang mereka yang terpilih.

Hari Pelantikan pun datang, 26 Februari 2012 akhirnya kami semua resmi jadi anggota B'Extion HIPMA 2011-2012.

B'Extion HIPMA 2011-2012
Satu tahun kepengurusan memang engga terlalu lama kerasa. Satu per satu kegiatan selesai dilaksanain (anggaplah semuanya selesai hehehe). Dan akhirnya ada kesempatan untuk kita pergi jalan sama-sama. Tapi sayang, Sandro telat datang jadi engga bisa ikut foto bareng B'Extion di acara kali ini.

Botani Square, 19 Desember 2012
Kepengurusan B'Extion 2011-2012 memang sudah selesai, tapi semoga kebersamaan dan kekeluargaannya masih bisa terus berlanjut
Read More …

Singkat cerita, akhirnya ngambil keputusan untuk ikut di acara Seminar Nasional, Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional, dan Lomba Film Dokumenter Pertanian Nasional POPMASEPI 2012 di Universitas Sriwijaya Palembang dengan tema "Mengimplementasi Green Economy dalam Kegiatan Bisnis Guna Mengantisipasi Perubahan Iklim dan Kemiskinan". Awalnya memang daftar juga di LKTI, tapi belum berhasil lolos di seleksi tingkat Departemen Agribisnis, dan cuma ikut LFDPN.
Hari pertama datang di Palembang, kurang tidur dan akhirnya foto dengan tampang ngantuk.
Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang
Hari pertama acara kali ini diisi dengan seminar nasional dengan tiga orang narasumber dari Dinas Pertanian, PT. Pupuk Sriwidjaja, dan Bank BNI.
Graha Bina Praja Palembang
Malam harinya, kegiatan diisi dengan perkenalan masing-masing delegasi dari setiap kampus yang mengirimkan perwakilan.
Wisma Atlet Jakabaring
Hari kedua acara merupakan pelaksanaan LKTI yang diadakan di Rektorat Universitas Sriwijaya. Peserta dibagi ke dalam dua kelompok dan pada lomba ini IPB mengirimkan dua tim yang keduanya memperoleh juara, masing-masing juara 1 yang diraih oleh kelompok Arif dan juara 3 oleh kelompok Raihan dan Mayank.
Rektorat Universitas Sriwijaya Inderalaya Palembang
Hari ketiga adalah pelaksanaan LFDPN yang diadakan di Gedung Teater Universitas Sriwijaya. Mungkin karena ada keberuntungan juga, tim IPB lagi-lagi mendapat juara pertama.
Gedung Teater Universitas Sriwijaya Inderalaya Palembang
Selesai dari Gedung Teater, peserta diajak berkeliling di Kampus Universitas Sriwijaya dan mampir di Gedung Fakultas Pertanian.
Kampus Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya
Masih di hari ketiga namun pada malam harinya, peserta kegiatan pergi menikmati malam di salah satu ikon kota Palembang yaitu Jembatan Ampera. Banyak masyarakat yang berjualan disini, entah itu makanan maupun berbagai barang-barang lainnya.
Jembatan Ampera Palembang
Hari keempat kegiatan dilaksanakan di PT. Pupuk Sriwidjaja. Ada pemaparan dan tanya jawab dengan pihak Pusri yang dilanjutkan dengan berkeliling di area pabrik.
PT Pupuk Sriwidjaja Palembang
Sore harinya, tidak ada kegiatan dari panitia. Delegasi IPB memutuskan untuk pergi ke Gelora Sriwijaya yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat menginap.
Gelora Sriwijaya Palembang
Selain itu juga ada Monumen Parmeswari yang terletak di depan gerbang Sriwijaya Sport Center.
Monumen Parmeswari Jakabaring
Hari terakhir kegiatan, peserta diajak panitia untuk pergi ke Pulau Kemaro.
Pulau Kemaro Palembang
Sore harinya, akhirnya kami kembali ke Jakarta. Banyak hal yang kami peroleh selama lima hari di Palembang. Pengalaman bertambah, teman bertambah, tapi sayang uang berkurang hehehe
Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang

Read More …




Kejutan kedua untuk mamah di hari ini. Setelah pagi tadi masang tulisan 'selamat ulang tahun' di ruang tamu dengan ukuran yang cukup besar karena dibuat dari sekitar 5 kardus bekas, hehehe. Sore ini, dengan sisa-sisa uang bulanan akhirnya bisa beli kue untuk mamah :)
Selamat ulang tahun 'mah . .
Read More …

















Read More …